20 Ribu Butir, Penyelundupan Narkotika Jenis Pil Ekstasi Happy Five dari Taiwan Digagalkan

 Headline, Hukum & Kriminal, Indeks Berita

 

Teks Foto : Bea Cukai Tipe Madya Jatim 1 Juanda saat menggelar jumpa pers atas keberhasilannya mengungkap penyelundupan narkotika via paket pengiriman barang dari Negara Taiwan. (foto : faisal rizal)

Teks Foto : Bea Cukai Tipe Madya Jatim 1 Juanda saat menggelar jumpa pers atas keberhasilannya mengungkap penyelundupan narkotika via paket pengiriman barang dari Negara Taiwan. (foto : faisal rizal)

SIDOARJO (MediaNusantaraSatu.com)
Customs Narcotics Team (CNT) KPPBC Tipe Madya Pabean Juanda dan Kantor Wilayah DJBC Jatim 1 berhasil menggagalkan sebuah paket kiriman pos dari negara Taiwan tujuan Surabaya Indonesia. Penyelundupan narkotika dengan nomor pengiriman EE688012104TW terjadi pada Kamis (21/1/2016) sekitar pukul 10. 30 WIB dengan modus menyembunyikan Nimetazepam (Erimin 5 /ekstasi Happy 5 ) dengan jumlah keseluruhan 20 ribu butir.

KPPBC Tipe Madya Pabean Juanda dan kantor Wilayah DJBC Jawa Timur 1 bekerja sama dengan MPC Surabaya, melakukan pemeriksaan terhadap sebuah paket kiriman pos dari Taiwan dengan alamat tujuan Surabaya. Dari hasil pemeriksaan tersebut petugas menemukan sebanyak 20 bungkus teh kemasan.

“Setelah diteliti lebih lanjut, ditemukan barang lain berupa Nimetazepam atau sejenis pil ekstasi Happy 5 bahasa populer dikalangan pedagang obat ilegal ini, dengan isi 1000 butir per kemasan jadi total nya 20.000,”tegas Iwan Hermawan Kepala Pengawasan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Juanda, Jumat (29/1/2016) saat gelar perkara kepada wartawan di media center setempat.

Lanjut dia, dari hasil uji laboratorium di Balai Pengujian dan Identifikasi Barang (BPIB) Tipe B Surabaya menunjukan bahwa tablet yang berada dalam kemasan teh hijau yang di kirim dari Taiwan itu ternyata positif memiliki kandungan utama Nimetazepam ( Erimin 5/Happy 5).

Sesuai dengan Undang Undang No 5 Tahun 1997 tentang psikotropika pasal 16 ayat 2 Impor Psikotropika hanya dapat dilakukan oleh pabrik obat atau pedagang besar farmasi. Pasal 17 ayat 2 Importir sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat 2 diatas, diwajibkan harus memiliki surat persetujuan Impor untuk setiap kali melakukan kegiatan Impor Psikotropika.

Sebagaimana diatur dalam peraturan Mentri Kesehatan No 9 Tahun 2015 tentang perubahan penggolongan  Psikotropika,  Erimin, Happy 5 dikenal dengan istilah Nimetazepam dan masuk dalam kategori Psikotropika golongan 4. Koordinasi antara KPPBC Tipe Madya Pabean Juanda, BNNP Jatim dan Direktorat Narkoba Polda Jatim dan MPC Surabaya di sepakati untuk melakukan Controlled Delivery.
Kegitan tersebut dilakukan dengan cara sedemikian rupa seperti alur proses pengiriman barang seperti biasa agar kelihatan normal oleh si penerima barang dan sesuai dengan SOP. MPC Surabaya.
Kemudian paket di kirim ke alamat penerima barang  yang beralamat di Surabaya, melalui Kantor Pos DC Surabaya Utara (Kebon Rojo) pada Sabtu (23/1/2016) sekitar pukul 09. 00 WIB. Seorang warga asing dengan menumpang Taxi datang ke loket penyerahan kantor pos DC Surabaya Utara Kebon Rojo, menanyakan kiriman paket tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan identitas si penerima barang yang barinisial CYL kewarganegaraan Taiwan. Petugas langsung mengamankan pria tersebut dan diserahkan kepada Direktorat Narkoba Polda Jatim untuk dilakukan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut.

Iwan menandaskan keberhasilan penggagalan penyelundupan dengan modus pengiriman paket barang ini merupakan hasil kerjasama antara Direktorat Jendral Bea dan Cukai (CNT KPPBC Tipe Madya Pabean Juanda dan Kanwil Jatim 1, serta BPIB Tipe B Surabaya) Direktorat Reserse Narkoba Polda Jatim, BNN Jatim, pengamanan Bandara (Lanudal dan POM AL) serta PT Pos Indonesia (MPC Surabaya).

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersangka dijerat dengan pasal 61 ayat 1a dan 1b Undang Undang No 5 Tahun 1997 tentang psikotropika dengan ancaman hukuman 10 Tahun penjara dan denda paling banyak Rp 300.000.000 serta Undang-Undang Kepabeanan No 17 Tahun 2006 pasal 102 tentang penyelundupan barang impor dengan ancaman pidana paling singkat 1 Tahun dan paling lama 10 Tahun serta denda paling sedikit Rp 50.000.000 dan paling banyak Rp 5.000.000.000. (faisal rizal/h darianto)