Kisah Sedih Ibu Muda Putat Tanggulangin Tubuhnya Digerogoti Tumor Ganas

 Headline, Hukum & Kriminal, Indeks Berita, Politik Pemerintahan
Teks Foto : Eli Erawati, ibu muda asal Putat Tanggulangin kakinya bengkak digerogoti penyakit tumor ganas. (foto : h darianto)

Teks Foto : Eli Erawati, ibu muda asal Putat Tanggulangin kakinya bengkak digerogoti penyakit tumor ganas. (foto : h darianto)

*Nasibnya Kini Hanya Menunggu Kematian

SIDOARJO (MediaNusantaraSatu.com)

Warga Desa Putat Kecamatan Tanggulangin Sidoarjo hanya bisa pasrah terbaring lemas tak berdaya. Pasalnya, Ibu muda berusia sekitar 30 tahun ini harus menderita tumor ganas yang menyerang bagian tubuhnya.

Adalah Eli Erawati (30), seorang ibu rumah tangga yang memiliki 3 orang anak. Kini, dia hanya tinggal bersama ibu dan anaknya yang masih kecil. Sedangkan suami dan kedua anaknya tinggal di Kediri. Sejatinya, ibu muda ini sudah lama menderita penyakit tumor dikakinya.

Saat di wawancarai, dia mulai menceritakan asal muasal membengkaknya penyakit tumor hingga menyebabkan lumpuh disekujur tubuhnya. Saat sebelum menikah, dia tiba-tiba tertindih oleh saudaranya. Sedangkan pada saat itu posisi duduknya dirasa kurang tepat. Namun sakit yang dirasakan di kakinya tak seperti yang dirasakan saat ini. Dia menganggap kejadian tersebut hanya biasa-biasa saja tanpa ada efek besar.

“Dua tahun lalu sebelum saya menikah terasa sakit. Tapi tak menyangka efeknya sebesar seperti ini,” ujar Eli, Jumat (29/1/2016) saat ditemui di rumahnya.

Awalnya, dia sempat memijat sendiri kakinya sendiri. Namun, benjolan itu mulai muncul saat dirinya sudah memiliki dua orang anak. Benjolan yang secara perlahan muncul itu belum terasa sakit. Lambat laun, pasca kehamilan anak ketiga nya benjolan tersebut terus membengkak.

“Karena ndak sakit, ya saya anggap masih biasa. Setelah saya pijet lagi ternyata terus membengkak. Tapi pada saat itu saya masih bisa berjalan,”ungkapnya.

Saat ditanya apakah dirinya pernah ke dokter sebelumnya. Dia mengungkapkan bahwa keterbatasan ekonomi yang membuatnya masih bisa bertahan dirumah. Selain itu, dirinya juga pernah didatangi pihak puskesmas yang berada tak jauh dari rumahnya. Pihak puskesmas menurutnya sepintas hanya menjenguk dan memeriksa kondisinya. Dia juga pernah ditawari pihak puskesmas jika hendak ke rumah sakit, pihak puskesmas siap mengantar.

“Petugas puskesmas sebanyak dua orang perempuan pernah kesini. Cuma di lihat saja dan memeriksa. Setelah itu diambil darahnya untuk pemeriksaan. Pihak puskesmas juga bersedia mengantar kalau saya mau ke rumah sakit. Tapi mau gimana lagi saya tidak ada biaya,” katanya.

Ketidaksediaanya atas penawaran pihak puskesmas, selain tak memiliki biaya, dia juga pernah dirujuk oleh pihak puskesmas ke RSUD dr. Soetomo Surabaya. Namun hasilnya kakinya terpaksa harus diamputasi. Sedangkan di RSUD Sidoarjo sendiri tak bisa menampungnya. Sehingga harus di rujuk ke RSUD Dr. Soetomo.

“Kata dokternya mau di amputasi, tapi saya ndak mau. Sudah ke rsud, tapi katanya tidak nampung. Saya hanya dikasih surat selanjutnya di rujuk ke Surabaya. Kejadiannya, tahun kemarin sebelum hari raya,” terangnya.

Dia yang menderita tumor ganas tak berhenti disitu. Lantaran keterbatasan itu lah, dirinya hanya mengonsumsi jamu pahit yang dibelinya dari pasar pasar terdekat.

Sementara, Arief Rachman Hakim asal Gedangan Sidoarjo yang juga dari Lazismu Sidoarjo mengungkpkan kesedihannya atas derita yang menimpa ibu muda ini. Menurutnya, tumor ganas yang berada di paha kirinya diperkirakan mencapai 4 kg itu bisa terbilang hanya terbaring lemas menunggu kematian, jika belum ada penanganan yang cepat.

“Saya terenyuh melihat kondisi ibu Eli. Dengan umur yang masih muda, dia harus merasakan penyakit yang terbilang parah. Bahkan termasuk tumor ganas. Jika dibiarkan,  kata dokter paling lama bisa bertahan hanya 6 bulan. Jika ditangani,  kemungkinan dipotong kakinya dipangkal paha, dan bisa hidup normal asal kemoterapi nya sukses,  salah satunya adalah sel kankernya mati,” ujarnya, saat menjenguknya kemarin.

Sehingga dia berinisiatif akan melakukan penggalangan dana kepada sebagian besar relasinya agar proses kemoterapi terhadap ibu tersebut bisa sukses. Karena hal itu juga tidak lepas dari biaya yang dibutuhkan. (h darianto)