Limbah B3 Dijadikan Urugan, Aktivis Ecoton Unjuk Rasa

 Gaya Hidup, Headline, Indeks Berita
DEMO - Sejumlah aktivis Ecoton menggelar aksi di alun-alun dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkab Sidoarjo mengenai limbah B3 yang semakin sering dibuang ke sembarangan tempat.(Foto : MNS.COM/Wawan)

DEMO – Sejumlah aktivis Ecoton menggelar aksi di alun-alun dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkab Sidoarjo mengenai limbah B3 yang semakin sering dibuang ke sembarangan tempat.(Foto : MNS.COM/Wawan)

 

Sidoarjo (MNS.COM) – Sejumlah aktivis Ecoton asal Kalijaten menggelar aksi di Alun-Alun dan kantor Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sidoarjo, Kamis (15/12/2016). Mereka mempersoalkan semakin maraknya perusahaan di Sidoarjo yang membuang limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) di sembarang tempat.

Dalam aksinya tersebut  para pendemo menggunakan pakaian safety limbah serta membawa tong limbah dan sampel limbah B3. Selain itu mereka juga membawa tulisan kecaman yang isinya Sidoarjo Darurat Limbah B3.

“Sebelum aksi kali ini, kami sudah investigasi selama setahun di Kecamatan Balongbendo dan Krian. Hasilnya, banyak perusahaan yang membuang limbah B3 pada malam hingga dini hari. Pengangkutannya menggunakan truk di kawasan by pass Krian, Desa Jerukgamping dan Desa Junwangi,” terang Prigi Arisandi, salah seorang pendemo.

Di desa-desa tersebut, limbah B3 tersebut dijual pada warga setempat dan digunakan untuk mengurug lahan. Harganya sangat murah, hanya Rp 150 ribu per dump truk.

“Kasihan warga yang tidak tahu bahayanya limbah B3. Apalagi di Junwangi ada yang ditaruh di karung di depan rumah-rumah warga. Pasti akan membahayakan anak-anak. Kami minta pembuangan limbah dari perusahaan di kawasan Krian dan Balongbendo itu segera ditindaklanjuti. Kalau tidak akan membuat perusahaan semakin ngawur membuang limbah berbahaya itu,” imbuhnya.

Saat di kantor BLH, para pendemo ditemui Sekretaris BLH, Edi Kurniadi dan Kasubid Pengelolaan Limbah, Nusfa. Menurut Edi pihaknya sangat membutuhkan informasi yang akurat dari masyarakat terkait pembuangan limbah B3 tersebut.

Pasalnya personil BLH sangat kurang, hanya 40 personil. Sedangkan yang khusus menangani limbah B3 hanya 4 orang.

“Kami akan tindaklanjuti informasi itu. Dan kami akan melakukan penelitian, apakah limbah itu tergolong B3 atau tidak. Kami juga akan sosialisasikan tentang bahaya limbah B3 ke desa-desa,” pungkasnya.(wan/lud)