Pasien DBD Meningkat Dirawat RSUD Sidoarjo

 Headline, Indeks Berita, Politik Pemerintahan
Teks Foto : RSUD Sidoarjo

Teks Foto : RSUD Sidoarjo

SIDOARJO (MediaNusantaraSatu.com)

Musim hujan, memasuki awal tahun penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di RSUD Sidoarjo sudah mencapai 18 kasus kalangan anak-anak. Sedangkan 35 kasus untuk penderita orang dewasa. Hal ini sudah sangat jauh jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Di tahun lalu, penderita DBD mencapai 20 kasus, sedangkan tahun 2014 mencapai 22 kasus penderita DBD baik kalangan dewasa maupun anak-anak.

Kepala bidang Pelayanan Kesehatan Medis RSUD Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina M. Kes, membenarkan adanya peningkatan penderita penyakit DBD yang terjadi di awal tahun ini. menurutnya, DBD adalah sebuah virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegepty. Nyamuk Aedes aegypti adalah nyamuk yang paling banyak menyebarkan dengue. Ini karena nyamuk tersebut menyukai hidup berdekatan dengan manusia dan makan dari manusia alih-alih dari binatang. Nyamuk ini juga suka bertelur di wadah-wadah air yang dibuat oleh manusia. Sehingga penyakit ini bisa menyerang kapanpun dan siapapun.

“Saat ini ada 18 kasus yang terjadi pada anak-anak yakni usia 1-15 Tahun, dan 35 kasus kalangan orang dewasa. Adapaun penderita kritis hingga hari ini ada dua orang yang terdiri dari anak-anak, dan 1 orang juga dari kalangan anak-anak meninggal dunia,” kata dr. Laksmi, saat di ruang RSUD Sidoarjo, Selasa (19/1/2016).

Selama ini, lanjutnya, terus melakukan komunikasi intens dan melaporkan kepada Dinas terkait atas peningkatan penderita penyakit DBD. Karena juga menyangkut Fasilitas Kesehatan Tingkat pertama (FKTP), yang merupakan fasilitas kesehatan yang melakukan pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat non spesialistik untuk keperluan observasi, promotif, preventif, diagnosis, perawatan, pengobatan atau pelayanan kesehatan dimana tertuang dalam program Jaminan Kesehatan.

“Kasus ini menyebar diberbagai wilayah, baik dari kecamatan wonoayu, Tanggulangin maupun Sidoarjo itu sendiri. Tahun ini lebih meningkat dibanding tahun lalu. Kalau tahun lalu dengan jumlah ada 20 kasus dan 1 meninggal, sedangkan di tahun 2014 ada 22 kasus,”terangnya. (h darianto)