Kamis, 17 September 2026
;

Iran Beri Syarat Kepada AS Untuk Buka Selat Hormuz

Ilustrasi Selat Hormuz (Foto: REUTERS/Stringer)

 

Iran menetapkan sejumlah syarat kepada Amerika Serikat sebelum membuka kembali Selat Hormuz, jalur perdagangan strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman energi dunia, dikutip dari Aljazeera pada hari Minggu (9/8/2026).

Tuntutan tersebut disampaikan di tengah upaya diplomatik yang melibatkan Oman untuk mencari kesepakatan terkait lalu lintas kapal di kawasan tersebut.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran berharap pembicaraan dengan Oman dapat menghasilkan kesepakatan mengenai Selat Hormuz.

Ia juga menyerukan agar Iran keluar dari kondisi “tidak perang, tidak damai” yang berlangsung di tengah konflik dengan Amerika Serikat.

Namun, posisi Iran masih menghadapi tuntutan keras dari Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC.

Kelompok tersebut menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan sejumlah persyaratan oleh Washington.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sepenuhnya sebelum Amerika Serikat mengubah kebijakannya terhadap Iran.

Salah satu tuntutan utama Teheran adalah penghentian blokade laut Amerika Serikat terhadap Iran.

Iran juga meminta Washington mengakhiri sanksi, menarik pasukan militernya dari kawasan sekitar Iran, serta memberikan kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Iran turut menuntut pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri serta penghentian serangan terhadap sekutu Iran di kawasan Timur Tengah.

IRGC menegaskan pembukaan Selat Hormuz tidak secara otomatis mengikuti hasil pembicaraan antara Iran dan Oman.

Dengan demikian, jalur diplomasi melalui Oman belum cukup untuk memastikan lalu lintas kapal kembali normal.

Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik karena menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak serta gas dunia.

Perselisihan mengenai pengelolaan selat tersebut menjadi salah satu sumber utama ketegangan antara Washington dan Teheran.

Iran memandang kendali atas jalur tersebut sebagai kepentingan strategis, sementara Amerika Serikat mendorong agar selat kembali berfungsi sebagai jalur pelayaran internasional yang terbuka.

Ketidakpastian tersebut juga terus mengganggu aktivitas pelayaran. Sejumlah kapal menghadapi risiko keamanan yang lebih tinggi ketika melewati kawasan Selat Hormuz, sementara pembahasan mengenai mekanisme lalu lintas baru masih berlangsung.

Di tengah tuntutan tersebut, proses diplomatik belum sepenuhnya terhenti.

Oman mengatakan pembicaraan terkait pengaturan pelayaran berlangsung dalam suasana positif dan konstruktif.

Namun, posisi Iran dan Amerika Serikat masih berbeda mengenai persyaratan yang harus dipenuhi sebelum aktivitas pelayaran dapat kembali normal.

Pezeshkian sendiri menyatakan Iran ingin mengakhiri kondisi ketidakpastian yang membuat negara tersebut berada dalam situasi “tidak perang, tidak damai”.

Perkembangan tersebut membuat Selat Hormuz tetap menjadi salah satu indikator penting bagi pasar energi global.

Semakin lama lalu lintas kapal terganggu, semakin besar pula risiko terhadap biaya pengiriman, pasokan energi, dan harga komoditas global.

Bagi pasar keuangan, penyelesaian sengketa Selat Hormuz akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga minyak dan sentimen investor terhadap aset berisiko.

Untuk saat ini, pembukaan kembali selat masih bergantung pada perkembangan negosiasi serta sejauh mana Washington bersedia memenuhi tuntutan Teheran.

Berita Terkait

;