Kamis, 17 September 2026
;

Gempa Magnitudo 7,7 M Guncang NTT

Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi di reruntuhan bangunan di Pelabuhan Maumere, NTT.

 

Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) dini hari menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan di sejumlah kabupaten. Hingga Sabtu siang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 14 orang meninggal dunia dan ribuan warga melakukan evakuasi.

Berdasarkan pemutakhiran data hingga pukul 12.30 WIB, selain korban meninggal dunia, terdapat dua orang mengalami luka berat dan 11 orang luka ringan.

BNPB menegaskan data tersebut masih bersifat sementara karena proses pendataan, verifikasi, dan validasi di lapangan masih berlangsung. Korban meninggal dunia sementara tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak tiga orang, Kabupaten Manggarai enam orang, dan Kabupaten Manggarai Timur lima orang.

Sementara korban luka dilaporkan berada di Kabupaten Sikka, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Timur.

BNPB menyampaikan bahwa data korban merupakan data sementara dan masih dapat berubah seiring proses verifikasi dan validasi oleh BPBD bersama unsur terkait. Setiap perkembangan data akan disampaikan berdasarkan hasil pendataan resmi di lapangan.

Selain menimbulkan korban jiwa, gempa NTT tersebut berdampak terhadap sekitar lima kepala keluarga. Sekitar 2.000 warga juga melakukan pengungsian atau evakuasi mandiri setelah merasakan guncangan kuat dan menyusul peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa utama.

 

Kerusakan akibat gempa NTT

Dari sisi kerusakan, BNPB sementara mencatat 54 unit rumah mengalami rusak berat, sembilan unit rusak sedang, dan 11 unit rusak ringan.

Kerusakan juga dilaporkan pada sejumlah fasilitas publik, yakni lima fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah, serta enam kantor pemerintahan. Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak kerusakan cukup signifikan. Di daerah tersebut tercatat 29 unit rumah rusak berat, sembilan unit rumah rusak sedang, dan sembilan unit rumah rusak ringan.

Selain rumah warga, lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan di Kabupaten Manggarai juga mengalami kerusakan. Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur mencatat 23 unit rumah rusak berat. Di Kabupaten Nagekeo, dampak sementara meliputi dua unit rumah rusak berat, satu unit rusak sedang, dan dua unit rusak ringan.

Dua fasilitas ibadah juga mengalami rusak ringan, sedangkan lima kantor pemerintahan terdampak. Kondisi terkini di Kabupaten Nagekeo turut diwarnai kemacetan lalu lintas dan pemadaman listrik.

Adapun di Kabupaten Sikka, gempa menyebabkan tiga orang meninggal dunia dan dua orang mengalami luka ringan. Kabupaten Manggarai melaporkan enam korban meninggal dunia, satu luka berat, dan dua luka ringan.

Sementara itu, Kabupaten Manggarai Timur mencatat lima korban meninggal dunia, satu korban luka berat, dan lima korban luka ringan.

Gempa berpusat di laut

Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58.24 WIB. Pusat gempa berada di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer.

Lokasi tersebut berada sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Guncangan kuat dirasakan selama kurang lebih satu menit di Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat, dan Kota Bima.

Getaran gempa juga dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros. Gempa utama sempat memicu peringatan dini tsunami.

Menyusul peringatan tersebut, BPBD bersama unsur terkait mengarahkan masyarakat di wilayah pesisir untuk segera melakukan evakuasi menuju lokasi yang lebih tinggi dan aman.

Berdasarkan hasil observasi tinggi muka laut di wilayah terdampak, tidak terdapat lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan. BMKG kemudian menyatakan peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 07.31.30 WIB. Empat gempa susulan.

Berita Terkait

;