Kamis, 17 September 2026
;

BGN Jatuhkan Sanksi Kepala SPPG Usai Ratusan Santri di Sidoarjo Keracunan MBG

ara pasien korban keracunan MBG yang dirawat di RSUD R.T. Notopuro, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur

 

Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9/2026).

Para santri yang mengalami keluhan kesehatan mendapat perawatan di sejumlah rumah sakit di wilayah Sidoarjo.

Bupati Sidoarjo Subandi memastikan seluruh santri yang menjalani perawatan telah mendapatkan penanganan medis. Ia juga membantah kabar yang menyebut ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut.

“Tidak ada yang meninggal, semua pasien tertangani dengan baik. Kalau ada berita yang menyatakan ada yang meninggal, itu tidak benar,” kata Subandi setelah mengunjungi para korban di RSUD Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (2/9/2026).

Subandi mengatakan sekitar 200 santri dirawat di RSUD Notopuro Sidoarjo. Sementara itu, 15 santri menjalani perawatan di RS Delta Surya dan 58 lainnya dirawat di RS Islam Siti Hajar Sidoarjo.

Menurut Subandi, seluruh santri yang tersebar di tiga rumah sakit tersebut terus dipantau dan mendapatkan penanganan medis sesuai kondisi masing-masing.

Sementara itu kepala SPPG Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Rafli Ridho meminta maaf dan mengaku menyesal dengan apa yang menimpa ratusan santri.

Menu MBG yang diberikan ada nasi putih, telur orak arik, tempe bumbu bali, tumis buncit baby corn dan apel dari SPPG Kalitengah, Tanggulangin. “Mohon maaf ya, saya menyesal,” kata Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho kepada awak media, Rabu (2/9/2026).

Menurut Rafli, pihaknya mengolah menu MBG itu sejak pukul 05.30 WIB sebelum disalurkan ke penerima pukul 11.00 WIB. Makanan tersebut hanya tahan hingga 4 jam.

Dia mengeklaim, sebelum dikonsumsi oleh penerima MBG, makanan akan diuji penilaian terlebih dahulu oleh PIC pihak sekolah untuk menentukan kualitas produk. Rafli pun tidak mengetahui mengapa anak-anak bisa mengalami keracunan sementara PIC pihak sekolah mengatakan makanan tersebut aman dikonsumsi.

“Di situ kan ada organoleptik (penguji atau penilai suatu produk). Jadi setiap ke sekolahan itu ada uji yang nantinya itu dicicipi oleh PIC pihak sekolah. Nah, setelah saya tanya, katanya aman, enggak ada masalah dimakanan itu. Tapi kenapa kok keracunanlah itu yang saya tidak tahu,” ungkap dia.

Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur membantah keras kabar viral di media sosial yang menyebutkan adanya belatung pada menu yang disajikan untuk para santri.

Dari hasil verifikasi internal BGN Jatim dan Koordinator Wilayah Sidoarjo, isu kontaminasi ulat atau belatung dipastikan hoaks.

“Untuk menentukan tingkat pelanggaran dan sanksi operasional, Tim Investigasi dari BGN Pusat yang dipimpin oleh Direktur Pengawasan Wilayah 2 BGN, Brigjen Doni, diterjunkan langsung ke Sidoarjo,” ujarnya.

Sementara itu, Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumeda menuturkan, operasional SPPG yang menyebabkan ratusan santri keracunan ini dihentikan selama 30 hari. “Kami juga melakukan suspend berat, dengan kategori berat, selama 30 hari terhadap SPPG Sidoarjo, Tanggulangin,” ujar Ketut, dalam keterangan pers.

Berita Terkait

;