One Ok Rock in Jakarta
Grup band rock asal Jepang, One Ok Rock, sukses menggelar konser penutup rangkaian tur DETOX: TUR ASIA 2026 di Indonesia Arena, kawasan GBK, Jakarta Pusat, pada Sabtu (16/5).
Pertunjukan musik yang berlangsung selama dua jam tersebut memuat penampilan energik dengan membawakan daftar isi 16 lagu dan dua buah lagu penutup tambahan (encore) di hadapan puluhan ribu penggemar yang memadati lokasi acara.
Sebagaimana dilansir dari Detikcom, vokalis utama band tersebut menyatakan komitmennya di atas panggung untuk kembali mengadakan pertunjukan di Indonesia pada masa mendatang dengan skala yang lebih besar.
“Jakarta, kami janji balik lagi,” teriak Taka, vokalis ONE OK ROCK.
Pernyataan tersebut kemudian dipertegas oleh sang vokalis yang mengisyaratkan target lokasi pertunjukan mereka selanjutnya di Indonesia.
“Stadium ya,” kata Taka.
Sebelum merampungkan rangkaian turnya di Jakarta, grup yang beranggotakan Taka Moriuchi, Toru Yamashita, Ryota Kohama, dan Tomoya Kanki ini telah lebih dulu menyambangi Bangkok, Seoul, Manila, Singapura, Taipei, Kuala Lumpur, dan Hong Kong.
Konser yang dimulai tepat pukul 20.00 WIB itu menyajikan kombinasi materi dari album terbaru mereka, DETOX (2025), serta lagu-lagu dari album terdahulu seperti Niche Syndrome (2010), Zankyo Reference (2011), Jinsei x Boku (2013), hingga Eye of the Storm (2019).
Di sela-sela penampilan, sang vokalis memberikan penjelasan mengenai latar belakang konseptual dari album DETOX yang disebutnya memiliki tema lebih berat dibandingkan karya-karya ONE OK ROCK sebelumnya karena situasi dunia yang dinilai kacau sejak empat tahun lalu.
“Aku merasakannya, jadi itulah mengapa sebagai musisi, sebagai band rock juga sebagai orang Jepang, aku hanya ingin menyampaikan beberapa pesan kepada dunia. Kalian tahu? Bahkan jika aku memasukkan beberapa hal politik di album, kami bukan pemerintah. Kami hanya band rock and roll, musisi,” katanya.
Pihaknya juga menyoroti adanya polarisasi di masyarakat di tengah situasi dunia saat ini, di mana banyak orang yang memilih untuk berpihak ke arah kanan atau kiri.
“Ada begitu banyak orang yang menderita. Itu selalu terjadi tapi kita gak bisa menghentikannya karena kita bukan pemerintah. Kita bukan mengurusi politik, kita hanya musisi, tapi kita bisa mengatakan sesuatu kepada dunia,” tukasnya.






