Kamis, 17 September 2026
;

Cak Imin Tekankan Figur Kandidat Calon Ketum PBNU di Muktamar Ke-35

Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar Ponpes Mamba'ul Ma'arif, Denanyar, Kabupaten Jombang.

 

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menekankan sikap yang sepatutnya diusung oleh figur-figur yang akan mencalonkan diri sebagai kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Menurut dia, sosok yang sebaiknya mengajukan diri sebagai kandidat calon pimpinan organisasi kemasyarakatan agama terbesar di tanah air tersebut dapat belajar dari kesalahan yang terjadi dari kepemimpinan-kepemimpinan sebelumnya. 

“Ya, yang sesuai itu ya, jangan mengulangi yang salah. Jangan jatuh di lubang yang sama, jangan mengulangi kesalahan yang sama,” ujar Cak Imin saat ditemui di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Jombang, Jumat (28/8/2026).

Cak Imin yang juga menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat itu juga mengatakan sosok yang akan memimpin NU harus memiliki kesadaran terhadap kekuatan yang dimiliki oleh organisasi agar tidak bergantung pada pihak-pihak lain.

“Ya, kita mengetuk kesadaran para pimpinan NU, tidak ada jalan lain agar kekuatan NU ini tidak punah. Kecuali NU memiliki sistem yang mandiri, tidak bergantung kepada siapapun,” ujarnya. Lebih lanjut, Cak Imin juga menyebut terjadinya gonjang-ganjing dalam tubuh petinggi NU yang merusak ukhuwah nahdliyah. Hal tersebut, kata dia, seharusnya segera dievaluasi dalam rangkaian Muktamar ke-35.

“Kegagalan lima tahun terakhir ini merusak ukhuwah nahdliyah. Ukhuwah yang merekatkan potensi agar kemandirian dan kekuatan sosial ekonomi NU bisa terjaga.

Kegagalan lima tahun terakhir ini harus menjadi evaluasi, karena muktamar itu forum evaluasi,” ucapnya. Ia mengatakan kegagalan pengurus telah tampak dengan situasi di tubuh PBNU yang terus memanas. Evaluasi tersebut dibutuhkan agar kondisi serupa tidak berjalan berkepanjangan selama lima tahun ke depan.

Kebesaran NU ini ternodai kalau ukhuwah nahdliyah selama lima tahun ini rusak. Saling pecat, berantem, kharisma atau kewibawaan kiai hilang, saling mengancam tidak diberi SK. Ini yang rugi ketika semua loyalitas itu hilang. Lalu, kita bergantung kepada siapa? Satu-satunya cara bangun ukhuwah, jangan mengulangi kesalahan,” kata dia.

Berita Terkait

;