Kamis, 17 September 2026
;

Dibebani 1,2 Juta, Bocah SD Bunuh Diri di NTT

Surat Siswa SD Bunuh Diri (Dok. Istimewa)

 

Yohanes Bastian Roja atau YBR, bocah SD kelas IV di Kabupaten Ngada, NTT tewas bunuh diri pada Kamis, 29 Januari 2026. Anak 10 tahun ini meninggal setelah permintaan dibelikan buku dan pena belum dapat dikabulkan ibunya.

Selain tak memiliki peralatan belajar, keluarga YBR juga dikabarkan mendapat beban uang sekolah yang cukup besar untuk sekolah negeri.

Kepala Sekolah SD Negeri Rj, Maria Ngene mengatakan, meski sekolah itu berstatus negeri namun semua siswa dibebankan uang komite sebesar Rp 1,2 juta setahun.

“Ibu YBR sudah bayar tahap satu sebesar Rp 500 ribu, masih sisa Rp 720 ribu,” ungkapnya.

“Dalam setahun bayar tiga kali. Hitungannya setiap empat bulan sekali bayar,” sambungnya.

Menurutnya, uang sebesar itu dipakai selain untuk membiayai guru honorer, juga digunakan untuk membiayai kegiatan olahraga antar kecamatan.

“Tahun ini kami sebagai tuan rumah, sehingga uang komitenya dinaikan menjadi 1,2, dari sebelumnya hanya Rp 500 ribu,” ungkapnya.

Ia mengaku, uang sebesar itu merupakan kesepakatan pihak komite sekolah dengan orang tua siswa.

“Pungutan itu tidak diketahui dinas pendidikan kabupaten Ngada. Kami hanya berkonsultasi dengan pengawas sekolah,” jelasnya.

PIP Tak Kunjung Cair

Ia mengaku pihak sekolah sempat menyarankan agar YBR dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga neneknya. Hal itu dilakukan karena ibu korban masih tercatat dalam Kartu Keluarga di Kabupaten Nagekeo.

“Baru saat kelas 3, dia masuk Kartu Keluarga neneknya, karena ibunya masih terdaftar di Nagekeo,” kata Maria.

Pada tahun ini, sekolah telah mengusulkan YBR sebagai penerima PIP. Dana bantuan sebesar Rp 450.000 bahkan telah tercatat masuk ke rekening. Namun, pencairan belum dapat dilakukan karena perbedaan domisili identitas orang tua.

“Saat hendak dicairkan, pihak bank tidak bisa memproses karena KTP ibunya berasal dari luar daerah. Ibunya ber-KTP Nagekeo,” ungkapnya.

Hari-Hari Terakhir Bocah SD di NTT Sebelum Bunuh Diri

Merangkum hari-hari terakhir YBR. YBR berasal dari keluarga tidak sejahtera. Di hari-hari terakhirnya, YBR kerap meminta ibunya untuk mencairkan uang dari Program Indonesia Pintar (PIP) guna kebutuhan sekolahnya. YBR beberapa kali menanyakan kepada ibunya tentang pencairan dana PIP. 

“Dia bertanya kapan PIP beasiswanya diurus dan mamanya bilang tunggu nanti pencairan ke BRI di kabupaten,” kata Bupati Ngada, Raymundus Bena, Kamis (5/2/2026). 

Dana itu tak pernah dicairkan. Hanya gara-gara administrasi, KTP ibunya masih tercatat berasal dari Kabupaten Nagekeo, bukan Kabupaten Ngada sesuai dengan domisili barunya. Sang ibu menceritakan ke YBR. Sang ibu harus mengurus kepindahan KTP agar bisa mencairkan PIP untuk YBR. 

Beberapa hari kemudian, YBR terus menanyakan mengenai uang itu. Lagi-lagi, jawaban yang diterimanya belum menggembirakan. Sang ibu belum mengurus kepindahan KTP sehingga dana untuk kebutuhan sekolah belum bisa dicairkan.

“Ditanya lagi anaknya dan dijawab sama lagi kalau akan diurus. Sampai terakhir belum sempat urus,” jelas Bupati Ngada.

Malam Terakhir Bersama Sang Ibu

Malam sebelum kejadian, Rabu, 28 Januari 2026. YBS menginap di rumah ibunya. Malam itu, YBS menyampaikan permintaan sederhana. Dia minta uang Rp 10.000. Bukan untuk jajan. Melainkan untuk membeli buku dan pena.

Namun, kondisi keuangan keluarga memaksa sang ibu memberi jawaban yang mengecewakan YBR. Ibunya tak punya uang. Sang ibu memberi penjelasan, kondisi ekonomi keluarga terbatas dan serba kekurangan, sehingga belum bisa membelikan buku dan pulpen untuk YBR. Seperti diceritakan Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa. 

“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” ungkap Dion Roa, Selasa (3/2/2026).

YBS dan ibunya hidup dalam jerat kemiskinan. Sang ibu harus menanggung kebutuhan lima orang anak. Sementara ayah YBS, sudah tak lagi bersama mereka sejak 10 tahun lalu. 

Keesokan harinya, Kamis 29 Januari 2026 pagi, sang ibu memintanya ke sekolah. Namun, dia menyampaikan kondisinya sedang sakit. Sang ibu tetap meminta YBR ke sekolah. Dia diantar ke rumah sang nenek.

Sesampainya di rumah sang nenek, YBR tidak melanjutkan ke sekolah. Dia ke kebun tak jauh dari rumah sang nenek. Ada beberapa warga yang sempat melihatnya. Mereka menanyakan alasan YBR tak ke sekolah hari itu. YBR menjawab sedang sakit kepala.

Tak lama, YBR ditemukan tak bernyawa. Dia tergantung di pohon cengkeh. YBR pergi dengan meninggalkan secarik surat yang isinya menyayat hati.

Isi Surat untuk Ibu

Begini bunyi surat korban dalam bahasa Ngada:

KERTAS TII MAMA RETI

MAMA GALO ZEEMAMA MOLO JA’OGALO MATA MAE RITA EE MAMA

MAMA JAO GALO MATAMAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EEMOLO MAMA

yang artinya :

SURAT BUAT MAMA RETI

MAMA SAYA PERGI DULUMAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL) JANGAN MENANGIS YA MAMA

MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL) TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA

SELAMAT TINGGAL MAMA

Di akhir tulisan tangan ini ada gambar dengan emoji menangis.

Berita Terkait

;