Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Republik Belarus Alexander Turchin di Minsk, Jumat
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, Indonesia tengah menjajaki kerja sama perdagangan dengan negara-negara di kawasan Eurasia. Salah satu yang sedang dijajaki adalah Belarus.
Menurut Airlangga, kerja sama dengan Belarus bakal sejalan dengan salah satu Asta Cita Presiden Indonesia, yaitu mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Hal tersebut disampaikan Airlangga saat memenuhi undangan Deputi Perdana Menteri Republik Belarus untuk mengunjungi sejumlah industri strategis Belarus di sektor alat berat, kendaraan komersial, dan mekanisasi pertanian modern di Minsk, Belarus, Kamis (14/5/2026).
Kunjungan tersebut meliputi perusahaan Minsk Tractor Works (MTZ), MAZ (Minsk Automobile Plant), dan BelAZ Holding Management Company. Airlangga melakukan kunjungan bersama dengan Wakil Menteri Industri Republik Belarus, Leonid Ryzkovsky.
Undangan Deputi Perdana Menteri Republik Belarus tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI-Belarus Bidang Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi, dan Teknik.
Airlangga menuturkan, ketiga perusahaan yang dikunjungi di Belarus tersebut merupakan bagian penting dari basis industri manufaktur Belarus yang dikenal memiliki keunggulan dalam produksi alat berat, kendaraan komersial, serta teknologi dan mekanisasi pertanian modern.
“Penjajakan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan tersebut sejalan dengan salah satu Asta Cita Presiden Indonesia, yaitu mewujudkan ketahanan pangan nasional,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Sabtu Jumat (15/5/2026).
“Untuk mendukung tujuan tersebut, modernisasi pertanian dan tersedianya alat berat yang efisien menjadi faktor yang sangat krusial,” kata Airlangga menambahkan.
Belarus memiliki basis industri manufaktur yang kuat dengan kontribusi sektor manufaktur mencapai sekitar 20,3% terhadap PDB nasional pada tahun 2024. Belarus juga dikenal memiliki keunggulan dalam pengembangan agro-industri dan mekanisasi pertanian yang mendukung ketahanan pangan nasional, termasuk tingkat swasembada pangan yang mencapai sekitar 96%.
“Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam produk alat berat, terutama yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia,” tandas Airlangga.
Pada kunjungan ke MTZ (Minsk Tractor Works), Menko Airlangga meninjau pengembangan teknologi traktor dan alat-alat mesin pertanian yang berpotensi mendukung agenda ketahanan pangan dan modernisasi pertanian Indonesia, termasuk pengembangan food estate dan peningkatan produktivitas pertanian nasional.
MTZ meyakinkan bahwa semua alat berat dan mesin bisa disesuaikan dengan kebutuhan pemesan. Mereka juga menawarkan pelatihan dan transfer teknologi untuk mendukung kerjasama tersebut. MTZ juga telah bertemu dengan Kadin dan telah ada pembicaraan awal mengenai kerjasama di industri alat berat.
Sementara itu, kunjungan ke MAZ (Minsk Automobile Plant) difokuskan pada potensi kerja sama pengembangan kendaraan komersial, bus, dan kendaraan khusus industri, termasuk peluang local assembly, transfer teknologi, dan pengembangan kendaraan rendah emisi.
Lalu, kunjungan ke BelAZ Holding Company, Indonesia dan Belarus membahas potensi penguatan kerja sama di sektor alat berat pertambangan, termasuk pengembangan maintenance ecosystem, local assembly, serta peluang kerja sama rantai pasok ban kendaraan berat berbasis natural rubber Indonesia.
Dalam diskusi lebih lanjut, turut dibahas mengenai pengembangan cassava menjadi ethanol dan studi terkait penggunaan baterai nikel untuk mendukung modernisasi pertanian
“Di sektor pertambangan, penggunaan baterai nikel pada truk telah diaplikasikan untuk meningkatkan efisiensi, keberlanjutan, dan kinerja kendaraan berat di sektor industri serta pertambangan. Indonesia sendiri mengekspor sekitar 800 juta ton batubara setiap tahunnya, sehingga kebutuhan dump truck untuk pertambangan yang efisien dan berkelanjutan menjadi prioritas yang penting,” jelas Airlangga.
Pemerintah Belarus, kata dia, selama ini terus mempelajari berbagai kebutuhan alat berat di Indonesia, namun informasi mengenai kebutuhan spesifik dari Indonesia masih relatif sulit didapatkan. Untuk mengatasi ini, perlu dilakukan pemetaan kebutuhan secara bersama, forum konsultasi reguler, serta peningkatan komunikasi antara pelaku industri dan pemerintah kedua negara.
“Langkah ini akan membantu memastikan bahwa produk dan solusi yang ditawarkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan,” pungkas dia
Kunjungan ketiga industri utama Belarus ini akan dapat memperkuat tindak lanjut hasil-hasil SKB ke-8 RI–Belarus, serta menjadi langkah penting dalam persiapan rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia di masa mendatang.
Turut hadir mendampingi Menko Airlangga dalam kunjungan ke industri Belarus adalah Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus Jose Tavares, Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, dan perwakilan kementerian/ lembaga terkait serta dari Kadin dan Apindo.






