H. Hasbiallah Ilyas berziarah ke makam Gus Dur di Ponpes Tebu Ireng, Jombang
Rombongan PKB DKI Jakarta mengisi sela kegiatan Muktamar ke-35 NU dengan melakukan kunjungan wisata religi ke Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (29/8/2026).
Ziarah tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan spiritual, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali mengingat sejarah panjang perjuangan para ulama dan tokoh bangsa dalam menjaga Indonesia.
Nahdlatul Ulama (NU) telah membersamai Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Para kiai, pesantren, dan santri ikut mendirikan, mempertahankan, kemudian mengisi Republik melalui pendidikan, dakwah dan pengabdian sosial.
Menurut H. Hasbiallah Ilyas berziarah ke makam Mbah Hasyim, Mbah Wahab dan Gus Dur mengingatkan kita kembali akar panjang persaudaraan antara kekuatan religius dan nasionalis dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Sejarah kelahiran NU menunjukkan bagaimana semangat keagamaan dapat berjalan beriringan dengan patriotisme dan perjuangan kebangsaan.
Semangat tersebut tercermin dari upaya para ulama dalam menjaga Ahlussunnah wal Jamaah, membangun persatuan ulama pesantren, memperkuat ukhuwah Islamiyah, sekaligus mengambil bagian dalam perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme.
Dari Mbah Hasyim dan para kiai kita belajar bahwa mencintai agama dan mencintai tanah air tidak ada pertentangan melainkan sebuah keharusan. Ketika Indonesia membutuhkan pembelaan, para kiai dan santri berdiri paling depan.
Kenang Perjuangan Gus Dur
Sosok KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur dikenang sebagai tokoh bangsa yang kontribusinya melampaui masa jabatannya yang singkat sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Ia dijuluki sebagai Bapak Pluralisme berkat komitmennya yang teguh terhadap keberagaman, serta upayanya yang signifikan dalam memperkuat keadilan dan demokrasi pasca-Reformasi.
Gus Dur memandang pluralisme bukan hanya sekadar mengakui adanya perbedaan (pluralitas), melainkan sebuah kesadaran untuk menghargai, menghormati, dan membela hak-hak setiap kelompok, tanpa memandang suku, agama, atau etnis.
Kontribusi Gus Dur dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, pluralisme, dan demokrasi ini diakui secara luas,
Bahkan perjuangan beliau mengantarkannya pada penganugerahan gelar Pahlawan Nasional RI.
Warisannya terus hidup melalui pemikiran-pemikiran cemerlang dan teladan sikapnya yang mengedepankan toleransi, inklusivitas, dan keberanian moral.






