Selasa, 5 Maret 2024

Para Kiai Sepuh dan Ajengan di Jawa Akan Hadir Dalam Harlah Ke-25 PKB di Solo

Ketua Panitia Syukuran Hari Lahir (Harlah) ke-25 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan 1 Abad NU, KH Yusuf Imam Khudori, mengatakan dipastikan bakal berlangsung penuh hikmat. Ini karena ada bacaan shalawat, sejumlah kiai sepuh pengasuh pondok-pondok pesantren dijadwalkan menghadiri kegiatan yang digelar di Stadion Manahan Solo, Ahad (23/7/2023) besok.

“Kehadiran para kiai sepuh ini menjadi penanda jika PKB tidak bisa dilepaskan dari para alim-ulama yang membidani kelahiran partai. Kehadiran para kiai khos ini juga menjadi penegas PKB sebagai partai yang menjadi pintu perjuangan para alim ulama dalam mewarnai berbagai kebijakan bangsa,” kata KH Yusuf Chudori, Sabtu siang (22/7/2023). Gus Yusuf-sapaan akrab KH Yusuf Chudori- mengungkapkan dari konfirmasi terakhir deretan kiai sepuh kepadanya, yang hadir besok itu di antaranya adalah Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Anwar Mansur (Lirboyo), Wakil Rais Aam PBNU KH Anwar Iskandar (Al Amien, Kediri), KH Nurul Huda Djazuli (Ploso), dan KH Agoes Ali Masyhuri (Tulangan).

Selain itu juga hadir para ibu nyai pengasuh pondok pesantren, seperti Nyai Badriyah Djazuli, Nyai Lilik Cholidah Badrus, dan Nyai Djuwariyah Fawaid As’ad. “Kehadiran beliau-beliau ini tentu sangat berarti dan kami mengucapkan terima kasih karena di tengah kesibukan beliau-beliau mendidik santri masih menyempatkan diri untuk khidmah bersama PKB,” ujarnya.

Selain para kiai sepuh, lanjut Gus Yusuf syukuran Harlah ke-25 PKB dan 1 Abad NU itu juga dihadiri para ajengan maupun perwakilan pesantren di Pulau Jawa. “Kehadiran para kiai sepuh, para pengasuh pesantren, para kiai muda, hingga para santri menunjukkan jika PKB tidak akan pernah lepas dari pesantren sebagai akarnya. PKB ini memang lahir dari pesantren dan menjadi alat perjuangan pesantren untuk Indonesia,” ujarnya.

Gus Yusuf yang merupakan pengasuh Ponpes API Tegalrejo Magelang ini menegaskan ke-NU-an dan Keindonesiaan yang merupakan dua tema besar dari garis perjuangan PKB. Menurutnya PKB tidak bisa dilepaskan dari NU, sebaliknya NU juga tidak bisa meninggalkan PKB karena ikatan sejarah, nilai, hingga aktor perjuangan yang hampir sama.

“PKB dan NU ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Kehadiran dua entitas besar ini merupakan aset bagi Indonesia untuk menciptakan kerukunan, perdamaian, dan kesejahteraan bagi anak bangsa,” pungkasnya.

Berita Terkait

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.