Kamis, 17 September 2026
;

Impian Punya Rumah Sendiri Bagi Generasi Sandwich

Ilustrasi perumahan KPR

 

Sejumlah sandwich generasi harus melakukan berbagai upaya demi bisa memiliki rumah impian di tengah gaji yang harus dibagi untuk menghidupi kedua orangtua. “Upayanya bekerja keras, terkadang lembur, bahkan kebanyakan lembur sampai terkadang tidak memikirkan kondisi badan.

Tidak peduli badan sakit atau tidak, yang penting masih kuat untuk menjalaninya,” kata salah satu generasi sandwich Marwan (27) kepada Kompas.com di Jakarta Selatan, Senin (3/8/2026).

Tanpa lembur, sulit baginya mengumpulkan uang untuk membeli rumah dengan gaji yang hanya Rp 5 juta per bulan. Gaji Rp 5 juta tersebut, 50 persennya digunakan untuk membantu kedua orangtuanya yang sudah tak lagi bekerja. Sisanya lagi baru digunakan untuk menafkahi istri dan mencicil rumah.

Ambil KPR di daerah penyangga

Marwan bilang, sulit untuk mewujudkan impiannya membeli rumah di Jakarta jika masih menjadi generasi sandwich. Mengingat, harga rumah di Jakarta sangat lah mahal, sehingga butuh waktu lama untuk menabung dengan gaji yang terbatas. Oleh karena itu, ia bersama istrinya nekat untuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di daerah penyangga Bekasi, Jawa Barat, yang harganya dinilai lebih murah.

“Mengambil di daerah Bekasi. Itu pun sumber dananya hasil dari joint income (pendapatan bersama), bukan single income,” ungkap dia.

Joint income dengan istri membuatnya bisa mencicil rumah komersil dengan harga Rp 3 juta per bulan. Nominal cicilan itu memang cukup besar, namun Marwan merasa jika tidak dipaksakan, dirinya tak akan memiliki rumah.

 

Punya Cicilan Buat Semangat Kerja

Ia juga paham, bahwa mengambil KPR komersil bunganya bisa berlipat-lipat ganda. “Memang secara perhitungan logis, kalau kita mengambil KPR, bunganya bisa berlipat-lipat,” kata dia. Namun, hal itu dinilai paling tepat untuk Marwan dan istri yang merupakan seorang generasi sandwich bisa meliliki rumah pribadi.

Sebab, jika mengumpulkan uang dulu sampai ratusan juta rupiah, Marwan tak yakin harga rumah bisa dijangkaunya. “Misalnya kita ingin beli tunai (cash), katakanlah harga rumah di Bekasi Rp 300 juta rupiah. Kita mengumpulkan uang selama lima tahun. Apakah dalam lima tahun ke depan harganya tetap Rp 300 juta? Pasti berbeda,” jelas dia.

Tingginya cicilan KPR juga menjadi pemicu untuk Marwan agar lebih bekerja keras. Begitu pula dengan generasi sandwich lain, Larasati (33), juga menjadi lebih semangat bekerja ketika resmi memiliki cicilan KPR di kawasan Tambun, Jawa Barat.

“Punya cicilan jadi semangat kerja, enggak boleh malas-malasan,” tutur dia di Jakarta Selatan, Senin. Sebab, KPR yang diambil merupakan komersil dengan harga cash sekitar Rp 500 jutaan. Larasati sudah menghitung, uang yang harus dikeluarkan dalam tenor cicilan 20 tahun adalah sekitar Rp 1 miliar.

Oleh karena itu, ia lebih giat bekerja agar bisa membayar ekstra, sehingga tak sampai 20 tahun. “Paling ngakalinnya ngeboom, ya, biar enggak sampai 20 tahun. Kalau ngeboom gitu kan, bunganya juga enggak sampai Rp 500 juta,” jelas dia. Sama seperti Marwan, ia sudah siap menanggung risiko dari KPR demi bisa memiliki rumah.

Berita Terkait

;