Selasa, 5 Maret 2024

Mengenal Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Guru Para Ulama

Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki merupakan Ulama Timur Tengah yang cukup tenar di Nusantara. Bukan hanya karena kealimannya, namun juga karena menjadi Guru bagi banyak Ulama di Nusantara.

Muhammad Alawi Al-Maliki merupakan seorang Sayyid, keturunan mulia yang nasabnya bersambung secara langsung dengan Nabi Muhammad SAW melalui cucunya, Imam Al-Hasan bin Ali RA. Dia merupakan pewaris keluarga Al-Maliki Al-Hasani di Mekkah yang masyhur.

Ulama yang lahir di Mekkah Arab Saudi pada tahun 1944 Hijriah ini dikenal sebagai sosok guru yang rendah hati di kalangan muridnya. Konon dia enggan mempertentangkan pendapat ulama satu dengan ulama lain, meski memiliki keilmuan yang cukup tinggi di bidang, Aqidah, Tafsir, Hadits, Sirah hingga Ushul Fiqih.

Dalam kehidupannya, beliau selalu sabar dengan semua pihak yang berlawanan dengannya. Setiap pendapat ulama yang bertentangan dengannya, diterima dengan sabar dan mengambil hikmah dari hal tersebut. Serta berusaha menjernihkan suatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu. Bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan.

Sayyid Muhammad tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya. Karena dia sadar bahwa hal tersebut merupakan celah untuk ‘musuh Islam’. Dengan penuh keikhlasan, dia selalu menghormati orang – orang yang tidak sependapat dan sealiran dengannya.

Dalam mengajarkan Islam, baik di Masjidil Haram atau di kediaman pribadinya, Sayyid Muhammad tidak membatasi pengajaran kepada batasan ilmu tertentu. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa diterima semua masyarakat, baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Muhammad. Pengajiannya tersebut biasa digelar selepas Salat Maghrib sampai Isya setiap harinya.

Sayyid Muhammad Al-Maliki juga kabarnya pernah membuat rumah yang besar dan dapat menampung ratusan murid per hari. Kediamannya tersebut terletak di Hay al Rashifah, pinggiran kota Mina, Arab Saudi.

Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya, dia selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua mendapat penghargaan yang sama dan dapat mencicipi ilmu bersama-sama.

Dari referensi yang ada, di kediaman Sayyid Muhammad Al-Maliki itulah para ulama-ulama hebat lahir dan membawa panji Rasulullah ke berbagai pelosok dunia. Ribuan muridnya bukan hanya menjadi Kiai atau ulama melainkan juga masuk ke dalam pemerintahan.

Selain itu, murid Sayyid Muhammad Al-Maliki yang jumlahnya begitu banyak, berdatangan dari seluruh penjuru dunia. Murid-muridnya belajar, makan, dan minum namun tidak dipungut biaya sepeser pun. Bahkan Sayyid Muhammad Al-Maliki memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah ilmunya dianggap cukup selama belajar beberapa tahun, para murid dipulangkan ke negara masing masing untuk mensyiarkan Islam.

Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, mereka pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup dalam untuk dijadikan marja’ dan referensi di negara-negara mereka.

Misi Sayyid Muhammad Al-Maliki yaitu ingin mengangkat derajat dan martabat kaum Muslimin. Serta mendidik manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan, pikiran dan perasaannya. Diantara Ulama di Indonesia yang didik oleh Sayyid Maliki yaitu KH Maimoen Zubair, KH Ubaidillah Faqih, KH Ali Imran, KH Thohir al-Kaf, Hahib Abdul Qadir al-Haddad, Habib Naqib Madura, KH Ali Karror, KH Muhaimin, Habib Muhammad al-Haddad, KH Ihya’ Ulumuddin dan masih banyak lagi. Para Ulama ini terhimpun dalam organisasi bernama Hai’ah Asshofwah yang menghimpun para murid Sayyid Maliki.

 

Wafatnya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki

Ulama ahlussunnah wa al-jama’ah yang karismatik itu meninggal dunia di usia 60 tahun pada 10 Mei 2004. Kabarnya, dia meninggal saat azan Subuh baru saja berkumandang di saat matahari masih menggantung di ufuk timur.

Kabar duka tersebut bertepatan 15 Ramadan 1425 Hijriah, Syekh Muhammad bin Alawi Al-Maliki menghembuskan nafas terakhir.

Menurut informasi yang beredar, guru para ulama itu, meninggal dunia saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Makkah. Saat kabar duka tersebut tersiar, kaum Muslimin setempat berbondong-bondong mendatangi kediamannya di pinggir kota Mina.

Jumlah warga yang menghadiri prosesi pemakamannya diperkirakan tidak kurang dari satu juta orang. Mulai para pejabat, ulama internasional hingga murid-muridnya yang berasal dari berbagai negara.

Tiga hari lamanya pintu rumah almarhum terbuka. Hal itu agar tersedia waktu bagi ribuan orang yang hendak menyaksikan, untuk terakhir kalinya, wajah sang guru tercinta.

Ketika jenazah Sang Sayyid hendak dishalatkan di Masjidil Haram, ribuan warga Mekkah bergantian mengusung jenazahnya. Mereka melakukannya dengan menangis sedih.

Sementara itu, toko-toko yang dilewati iring-iringan jenazah mematikan lampu sebagai tanda duka. Sampai di Masjidil Haram, lautan manusia mengikuti shalat jenazah. Setelah disalatkan, jasadnya dikebumikan di pemakaman Al-Ma’la. Letak kuburan Syekh Muhammad berada di samping makam Khadijah, istri Rasulullah SAW.

Sumber: diolah dari berbagai sumber

Berita Terkait

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.